Lensakaltim.com (Kutim) – Memasuki usia ke-27 tahun, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat fondasi pembangunan menuju perekonomian yang lebih beragam, inklusif, dan mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Transformasi ekonomi menjadi salah satu arah yang terus didorong pemerintah daerah. Di tengah struktur ekonomi Kutim yang masih didominasi sektor penggalian dan pertambangan, pengembangan sektor nonpertambangan mulai diperkuat melalui UMKM, industri kreatif, pariwisata, dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan, perjalanan pembangunan selama 27 tahun telah menunjukkan perkembangan, terutama dari sisi sumber daya manusia dan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Hal itu disampaikan Ardiansyah saat ditemui usai menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPRD Kutim dalam rangka memperingati HUT ke-27 Kutai Timur, Kamis (8/10/2026) di ruang Paripurna kantor DPRD Kutim.
Menurutnya, tantangan ekonomi Kutim saat ini adalah bagaimana menjaga pertumbuhan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan. Pasalnya, perubahan produksi batu bara turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Pertumbuhan kita cuma 1,4 persen. Karena dominasinya ada pada pertambangan batu bara, yang pada tahun 2025 mendapatkan pengurangan produksi. Sehingga karena pengurangan produksi, maka itu juga akan menggerus pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Ardiansyah.
Meski demikian, Ardiansyah melihat perkembangan positif pada sejumlah indikator lainnya. PDRB per kapita dinilai cukup baik, sementara perekonomian nonpenggalian dan nonpertambangan juga mulai menunjukkan peningkatan.
Industri kreatif dan pariwisata, kata dia, menjadi bagian dari sektor yang mulai berkembang. Pertumbuhan tersebut sekaligus menunjukkan semakin besarnya peran masyarakat dalam menggerakkan roda perekonomian daerah.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai ikut ambil bagian di dalam pembangunan ini,” katanya.
Untuk memperkuat peran masyarakat, Pemkab Kutim kembali menjalankan program permodalan bagi pelaku UMKM pada tahun ini. Program tersebut diharapkan membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan membangun kemandirian ekonomi.
Ardiansyah menegaskan, transformasi ekonomi yang dilakukan pemerintah tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pemerataan.
“Kami berpikir bahwa transformasi ekonomi ini, selain daripada kita berinovasi dengan berbagai macam program, kita juga ingin pemerataan ekonomi ini menjadi bagian yang bisa masuk ke sendi-sendi ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Menurutnya, ketika aktivitas ekonomi semakin banyak tumbuh di tengah masyarakat, manfaat pembangunan diharapkan tidak hanya terkonsentrasi pada sektor tertentu. Ekonomi kerakyatan pun dapat menjadi bagian penting dalam menopang pembangunan Kutim ke depan. (adv/rl/ao)













