27 Tahun Kutim, Ardiansyah: Pertumbuhan Harus Dirasakan Bersama

27 Tahun Kutim, Ardiansyah: Pertumbuhan Harus Dirasakan Bersama

Memasuki usia ke-27, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mendorong pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat hingga pelosok.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman pada pelaksanaan Upacara Peringatan HUT ke-27 Kutim, Senin (12/10/2026). Mengusung tema “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama”, momentum tersebut menjadi refleksi capaian sekaligus penegasan arah pembangunan daerah.

Dari sisi ekonomi, Kutim masih ditopang sektor pertambangan yang berkontribusi 70,16 persen terhadap PDRB. Namun, transformasi mulai terlihat. Ekonomi Kutim 2025 tumbuh 1,05 persen, sementara sektor industri pengolahan melesat 19,12 persen.

Pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi agar sumber daya alam memberikan nilai tambah bagi daerah. Salah satunya melalui proyek strategis nasional gasifikasi batu bara menjadi metanol di Bengalon.

Kemajuan juga terlihat dari kualitas sumber daya manusia. IPM Kutim naik dari 75,90 pada 2024 menjadi 76,48 pada 2025, sedangkan Indeks Kepuasan Masyarakat meningkat dari 81,41 menjadi 85,82. Kutim juga meraih UHC Award 2026 kategori Utama atas keberhasilan jaminan kesehatan semesta.

Di sektor infrastruktur dasar, pemerataan terus diperluas. Setelah enam desa di Sangkulirang menikmati listrik PLN 24 jam pada Agustus lalu, empat desa di Kecamatan Batu Ampar—Beno Harapan, Mawai Indah, Mugi Rahayu, dan Himba Lestari-kini turut menikmati listrik setelah menunggu puluhan tahun.

Bagi Ardiansyah, pembangunan bukan sekadar angka pertumbuhan, tetapi tentang menghadirkan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang.

Karena itu, ia mengajak DPRD, dunia usaha, akademisi, pemuda, kaum perempuan, dan seluruh masyarakat menjaga kolaborasi serta gotong royong dalam membangun Kutim.

“Pertumbuhan harus dirasakan bersama, tanpa ada wilayah, kelompok masyarakat, maupun generasi yang tertinggal. Sebab, kemajuan Kutai Timur bukan tentang seberapa jauh sebagian dapat melangkah, tetapi tentang seberapa banyak masyarakat dapat tumbuh dan maju bersama,” imbuhnya. (adv/rl/ao)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *