Anggaran Terbatas, Pembinaan Budaya Pelajar Terancam Tertunda

Anggaran Terbatas, Pembinaan Budaya Pelajar Terancam Tertunda
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono

Lensakaltim.com (Kutim) – Upaya menjaga budaya lokal di kalangan generasi muda Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menghadapi tantangan. Di tengah efisiensi anggaran daerah, sejumlah program yang selama ini menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal dan mengekspresikan budaya daerah harus dikurangi bahkan tertunda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, mulyono mengatakan keterlibatan pelajar dalam kegiatan seni dan budaya merupakan salah satu cara paling efektif untuk memastikan tradisi lokal tetap hidup dan tidak sekadar menjadi warisan sejarah.

Menurutnya, pelajar bukan hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi merupakan kelompok yang paling strategis untuk ditanamkan pemahaman mengenai seni, tradisi, dan nilai-nilai budaya daerah sejak dini.

“Berbagai ruang ekspresi seni bagi siswa sekolah dasar hingga menengah sebelumnya telah kita rancang secara berkala, dan itu juga sudah berjalan,” ujar Mulyono belum lama ini.

Ia mencontohkan pelaksanaan Pesta Seni (Pensi) pada 2025 yang digelar hingga tingkat kecamatan. Program tersebut dinilai memberikan dampak langsung karena mempertemukan pelajar, sekolah, masyarakat, serta pelaku seni dalam satu ruang kegiatan.

“Harapan ke depannya program pesta seni di sekolah-sekolah dan tingkat kecamatan ini bisa diadakan kembali. Karena pesertanya anak-anak sekolah, dampaknya jauh lebih terasa dan langsung kena ke sasaran,” katanya.

Namun, kondisi anggaran tahun ini menjadi kendala. Efisiensi daerah membuat sejumlah agenda Pensi di tingkat kecamatan belum dapat kembali dilaksanakan seperti sebelumnya. Ia mengaku telah mengarahkan anggaran yang tersedia untuk program yang dinilai lebih prioritas, salah satunya festival kebudayaan daerah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan pembinaan budaya di tingkat pelajar tidak hanya bergantung pada minat generasi muda, tetapi juga pada konsistensi dukungan program dan anggaran pemerintah daerah. Di sisi lain, Disdikbud tetap berupaya memanfaatkan program yang sudah berjalan sebagai ruang pembinaan bakat dan seni pelajar, termasuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

“Fokus kita juga mengoptimalkan wadah ajang bakat pelajar yang sudah berjalan, seperti FLS2N untuk anak-anak kita. Agar budaya kita tidak mati di kalangan pemuda dan mempertahankan nilai budaya, kita memang sering berbaur dengan komunitas-komunitas yang ada di Kutim,” pungkasnya. (adv/ir/ao)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *