Lensakaltim.com (Kutim) – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman, membuka launching Rencana Aksi Daerah (RAD) Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK), yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Jumat (21/11/2025).
Kegiatan di Hotel Viktoria tersebut, turut dihadiri sejumlah OPD termasuk Dinas Pengendalian Kependudukan dan Keluarga Berencana (PKKB), Dinas kependududkan dan catatan sipil (Disdukcapil), DPPPA, Dinkes, Dinsos, Dpmdes, Bapedda, Diskominfo, Forkofimda dan perusahaan.
Dalam sambutnya, Ardiansyah Sulaiman mendukung langkah Disdikbud dalam menanggulangi Anak Tidak Sekolah di Kutim. Dengan angka yang cukup tinggi itu, Bupati menilai kolaborasi semua pihak patut diperkuat kedepanya, sehingga angka ATS di Kutim bisa ditekan dalam jangka waktu setahun ini.
“Saya harap setahun kedepan ada perubahan yang terlihat. Terlebih saat ini peemrintah telah merealisasikan 20 persen APBD bahkan lebih untuk dunia Pendidikan di Kutim, jadi angka ATS ini segera diselesaikan,” jelas Ardiansyah Sulaiman.
Ia juga meminta tim kajian RAD ATS dari Universitas Negeri Jogjakarta (UNJ), dapat menampilkan dan memperlihatkan secara utuh terkait data agar pemerintah daerah bisa melakukan evaluasi.
Kesempatan itu, Ardiansyah Sulaiman memberikan sejumlah catatan kepada Disdikbud dalam menanggulangi ATS di Kutim, termasuk penyusunan Perbup wajib belajar 13 tahun, mendata masyarakat pendatang, melakukan validasi by name by address, program cap jempol Disdikbud untuk ditindak lanjuti.
“Termasuk Pemdes maksimalkan kolaborasi dengan ketua RT sebagai ujung tombak dimasyarakat, mendorong Dinas sosial merealisasikan program pusat yakni sekolah rakyat serta mendata karyawan perusahaan yang memiliki anak. Ini saya kira menjadi poin untuk dimaksimalkan Disdikbud,” imbuhnya.
Dari data yang diperoleh, angka Anak Tidak Sekolah di Kutim mencapai 10.539 anak. Sementara kecamatan yang memiliki presentae tertinggi, dimiliki Sangatta Utara dengan angka ATS dengan alasan DO mencapai 309 anak. (adv/lk)













