Lensakaltim.com (Kutim) – Api berkobar tinggi dari Brong Api. Nyalaannya menerangi kawasan Rumah Pore Adat Kutai di Jalan Ring Road, Sangatta, Minggu (11/10/2026). Di tengah geliat pembangunan Kutai Timur (Kutim) yang terus bergerak, kobaran itu membawa pesan sederhana namun kuat: kemajuan boleh melaju, tetapi budaya tidak boleh kehilangan tempat.
Momen tersebut menjadi bagian dari pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman hadir bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin dan Wakil Bupati Mahyunadi.
Dengan balutan busana adat kebesaran Kutai, Ardiansyah memegang suluh dan mengarahkannya ke Brong. Api pun menyala dan perlahan membesar. Tepuk tangan masyarakat mengiringi prosesi yang berlangsung khidmat tersebut.
Brong Api bukan sekadar simbol pembukaan acara. Dalam rangkaian Erau Adat Pelas Benua, api menjadi perlambang penerangan, penyucian diri, sekaligus semangat untuk menjaga keharmonisan dan persaudaraan.
Secara filosofi, “Pelas” bermakna menyucikan atau membersihkan, sedangkan “Benua” berarti wilayah, kampung, atau tanah air. Tradisi tersebut menjadi ungkapan syukur atas limpahan hasil bumi, kedamaian, serta keharmonisan kehidupan masyarakat.
Pelas Benua juga menjadi doa bersama agar Kutim senantiasa mendapat perlindungan dan dijauhkan dari berbagai marabahaya, paceklik, maupun perpecahan.
Kemajuan tidak semata diukur dari pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, maupun geliat industri. Identitas dan karakter masyarakat juga menjadi fondasi yang perlu terus diperkuat. “Kobaran api Brong ini merepresentasikan semangat kita yang tidak boleh padam. Ini adalah simbol penerangan, pembersihan diri, sekaligus semangat untuk terus menjaga harmoni persaudaraan,” ujar Ardiansyah.
Dia menegaskan, keberagaman merupakan salah satu kekuatan Kutim. Ruang kebudayaan seperti Erau Pelas Benua menjadi wadah untuk mempertemukan masyarakat sekaligus memperkuat persatuan. Semangat menjaga budaya juga terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam perhelatan tersebut. Para tetua adat, generasi muda, hingga masyarakat umum hadir dan membaur dalam suasana perayaan.
Di sisi lain, Erau Pelas Benua turut membuka ruang bagi pelaku usaha lokal. Kehadiran UMKM di sekitar lokasi kegiatan membuat perhelatan adat tidak hanya menjadi panggung pelestarian tradisi, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Kuliner khas dan berbagai produk lokal menjadi bagian dari kemeriahan. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan.
Bagi generasi muda, Erau menjadi ruang untuk mengenal lebih dekat warisan leluhur. Sementara bagi para tetua adat, perhelatan ini menjadi kesempatan untuk memastikan nilai-nilai budaya tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kobaran Brong Api menjadi metafora perjalanan Kutim. Daerah ini terus tumbuh dengan pembangunan dan modernisasi, namun tetap membutuhkan akar yang kuat agar tidak kehilangan jati diri.
Erau Adat Pelas Benua 2026 pun menjadi pengingat bahwa pembangunan dan kebudayaan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan untuk membangun Kutim yang maju sekaligus tetap berkarakter.
Api Brong mungkin menyala dalam satu prosesi. Namun bara budaya diharapkan terus hidup, menjadi pijakan Kutim melangkah menuju masa depan tanpa melupakan akar leluhur. (adv/rl/ao)













