Erau Adat Pelas Benua 2026, Mahyunadi Tekankan Keselarasan Tradisi dan Agama

Erau Adat Pelas Benua 2026, Mahyunadi Tekankan Keselarasan Tradisi dan Agama
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi

Lensakaltim.com (Kutim) – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menegaskan pentingnya menjaga kelestarian tradisi Erau Adat Pelas Benua dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama. Penyesuaian terhadap sejumlah ritual adat dinilai perlu agar tradisi budaya tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Mahyunadi dalam malam ramah tamah dan syukuran penutupan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 di Rumah Pore Adat Kutai, Selasa (13/10/2026).

Dalam sambutannya, Mahyunadi mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan adat. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat.

Menurut Mahyunadi, upaya penyesuaian terhadap pelaksanaan tradisi tersebut telah mendapat persetujuan dan dukungan dari Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

“Penyesuaian ini dilakukan untuk menyaring tradisi. Kegiatan yang membawa manfaat akan terus dilanjutkan, sementara yang kurang memberikan manfaat akan direduksi,” kata Mahyunadi.

Ia menjelaskan, Erau Adat Pelas Benua tahun ini diisi sejumlah prosesi dan kegiatan tradisional, di antaranya Beluluh, Begenjoh, dan Belimbur. Setiap prosesi memiliki makna tersendiri yang menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Kutai.

Mahyunadi mengapresiasi evaluasi terhadap sejumlah ritual adat agar pelaksanaannya tetap sejalan dengan ajaran agama. Ia berharap proses tersebut tidak menghilangkan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur, melainkan memperkuat keberlanjutan tradisi agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Selain pelestarian budaya, Mahyunadi menilai Erau memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi festival yang lebih besar. Untuk mewujudkannya, diperlukan dukungan anggaran yang memadai serta keterlibatan perusahaan dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan pada masa mendatang.

Pemkab Kutim juga berencana menambah berbagai perlombaan dan kegiatan pendukung guna menarik lebih banyak pengunjung. Partisipasi diharapkan tidak hanya berasal dari masyarakat Kutai, tetapi juga melibatkan berbagai suku dan kelompok masyarakat lainnya.

Dengan pengembangan tersebut, Erau diharapkan tidak sekadar menjadi agenda pelestarian tradisi, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan, memperkuat kerukunan, serta memperkenalkan kekayaan budaya Kutim kepada masyarakat yang lebih luas. (adv/bt/ao)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *