Erau Bukan Sekadar Ritual, Trisno Ingatkan Jati Diri Kutim Tak Boleh Pudar

Erau Bukan Sekadar Ritual, Trisno Ingatkan Jati Diri Kutim Tak Boleh Pudar
Erau Bukan Sekadar Ritual, Trisno Ingatkan Jati Diri Kutim Tak Boleh Pudar

Lensakaltim.com (Kutim) – Kemajuan daerah tak cukup hanya ditandai dengan berdirinya jalan, jembatan, dan bangunan megah. Ada warisan yang tak kalah penting untuk dijaga, yakni budaya dan jati diri masyarakat.

Pesan itu disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Trisno, yang juga menjabat Ketua Panitia Pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026.

Menurut Trisno, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pembangunan fisik. Terlebih, Kutim yang kini memasuki usia ke-27 tahun perlu memastikan kemajuan daerah tidak membuat masyarakat kehilangan identitas dan akar sejarahnya.

“Melalui perhelatan Erau ini kita sedang membangun kebanggaan, martabat, dan jati diri yang tidak kalah penting dengan bangunan-bangunan monumental yang saya sebutkan itu,” ungkap Trisno.

Ia menilai pembangunan infrastruktur memang penting untuk menunjang aktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Namun, kebudayaan juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter serta kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya.

Dalam rangkaian perayaan tahun ini, Erau menghadirkan berbagai ritual adat, kirab budaya, hingga pertunjukan seni. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal tradisi yang diwariskan para pendahulu sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Trisno mengingatkan, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada perayaan seremonial tahunan. Diperlukan komitmen bersama agar tradisi tetap hidup dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus diwariskan.

Terlebih, sumber daya alam yang menjadi salah satu penopang pembangunan daerah memiliki keterbatasan. Sementara itu, tradisi dan identitas budaya harus terus dijaga agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.

“Sumber daya alam suatu saat akan habis, namun ada tradisi dan jati diri bangsa, termasuk Kutai Timur, tidak boleh pudar ditelan oleh zaman,” imbuhnya. (adv/rl/ao)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *