Lensakaltim.com (Berau) – Pemerintah Kabupaten Berau tidak mengendurkan upaya peningkatan produksi jagung pada 2026. Meski dihadapkan pada penyusutan lahan tanam di sejumlah wilayah, pemkab tetap menyalurkan bantuan benih dengan fokus pada varietas hibrida.
Program ini dijalankan melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau dengan dukungan anggaran dari APBN. Bantuan tersebut kini masih dalam tahap proses distribusi dan diperkirakan mulai masuk ke Berau pada Mei mendatang.
Fungsional Analis Pasar Hasil Pertanian DTPHP Berau, Wono Nugroho, menjelaskan bahwa tahun ini bantuan tidak lagi mencakup benih komposit, melainkan sepenuhnya mengandalkan benih jagung hibrida yang dinilai lebih unggul dari sisi produktivitas.
“Benih yang disiapkan adalah hibrida dari APBN. Saat ini masih berproses, estimasinya Mei sudah mulai masuk,” kata Wono.
Ia menyebutkan, program tersebut menyasar lahan seluas 1.569 hektare yang tersebar di lebih dari 40 kampung. Penyaluran akan dilakukan melalui kelompok tani yang sebelumnya telah mengajukan dan lolos verifikasi.
Langkah beralih ke benih hibrida disebut sebagai strategi untuk mengejar peningkatan hasil panen di tengah berbagai keterbatasan. Dengan teknik budidaya yang tepat, varietas ini diyakini mampu menghasilkan produksi lebih tinggi dibandingkan jenis biasa.
Namun di lapangan, kondisi tidak sepenuhnya ideal. DTPHP mencatat adanya penurunan luas tanam di beberapa wilayah akibat alih fungsi lahan yang terus terjadi. Meski begitu, ada pula pembukaan lahan baru yang sedikit menahan laju penurunan tersebut.
“Memang ada penurunan luas tanam di beberapa titik karena alih fungsi. Tapi di sisi lain, juga ada penambahan lahan baru,” ujarnya.
Masalah lain yang turut membayangi adalah keterbatasan fasilitas pascapanen. Hingga kini, petani masih kekurangan alat pengering (dryer) yang berperan penting dalam menjaga kualitas jagung, terutama saat musim hujan.
“Kebutuhan dryer ini masih tinggi. Tanpa itu, kualitas hasil panen bisa turun, apalagi kalau cuaca tidak mendukung,” jelasnya.
Sebagai solusi sementara, DTPHP mengoptimalkan peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk mendampingi petani secara intensif, mulai dari masa tanam hingga penanganan pascapanen.
Pemkab berharap kombinasi benih unggul dan pendampingan teknis mampu menjaga bahkan meningkatkan produksi jagung tahun depan. Kendati demikian, faktor eksternal seperti serangan hama dan perubahan iklim tetap menjadi tantangan yang sulit diprediksi.
“Selama tidak ada gangguan hama dan cuaca ekstrem, kami optimistis hasilnya bisa lebih baik,” pungkasnya. (*)













