Lensakaltim.com (Kutim) – Kutai Timur (Kutim) terus bergerak maju. Pembangunan di sektor ekonomi, infrastruktur, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) terus digenjot. Namun, di tengah derasnya arus pembangunan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim memastikan identitas daerah tidak ikut tergerus.
Adat dan budaya tetap ditempatkan sebagai bagian penting dalam perjalanan pembangunan daerah. Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat membuka Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 di Lapangan Rumah Pore Adat Kutai, Jalan Ring Road, Minggu (11/10/2026)
Bagi Ardiansyah, Erau bukan sebatas agenda tahunan atau seremoni kebudayaan. Di balik setiap ritualnya terdapat nilai sejarah, kearifan lokal, serta identitas masyarakat yang perlu terus diwariskan kepada generasi penerus. “Kemajuan zaman tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar adat dan budaya aslinya,” tegas Ardiansyah.
Kutai memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Warisan tersebut menjadi kekayaan yang harus terus dirawat sekaligus dikembangkan menjadi kekuatan dalam membangun daerah. Karena itu, pembangunan Kutim tidak hanya diarahkan pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Penguatan karakter masyarakat, kebersamaan, serta pelestarian budaya juga menjadi bagian dari pembangunan yang berkelanjutan.
Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 mengusung tema “Adat Lestari, Tuah Benua, dan Etam Berjaya.” Tema tersebut menggambarkan semangat untuk menjaga warisan budaya sekaligus mengiringi kemajuan Kutim.
Ardiansyah menekankan, kekayaan tersebut harus dikelola secara bijak dan bertanggung jawab agar memberikan manfaat bagi masyarakat serta tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. “Pembangunan tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi dan fisik infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh pembentukan karakter serta merawat kebersamaan,” ujar Ardiansyah.
Komitmen pelestarian budaya juga mulai diperkuat melalui sektor pendidikan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memasukkan Bahasa Kutai sebagai Muatan Lokal (Mulok) dalam pendidikan formal pada jenjang SD dan SMP.
Kebijakan tersebut diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk lebih mengenal bahasa dan identitas daerahnya. Dengan begitu, budaya Kutai tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah generasi yang tumbuh di era modern.
Pelestarian adat juga tidak terlepas dari kepedulian terhadap lingkungan. Ritual Pelas Benua membawa pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Pesan tersebut relevan dengan pembangunan Kutim yang memiliki potensi sumber daya alam besar. Kemajuan daerah diharapkan berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga ruang hidup bersama.
Pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 turut dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, Sekda Kutim Rizali Hadi, jajaran Forkopimda, serta tokoh masyarakat dan tokoh adat.
Melalui Erau, Pemkab Kutim kembali menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan.
Kutim boleh terus melaju mengejar kemajuan. Namun, akar budaya tetap menjadi pijakan agar pembangunan tidak kehilangan arah dan jati diri. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” pungkas Ardiansyah. (adv/rl/ao)













