Lensakaltim.com (Kutim) – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menantang 247 lulusan STIE Nusantara Sangatta agar tidak berhenti setelah meraih gelar akademik. Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif dan cepatnya perkembangan teknologi, lulusan perguruan tinggi dituntut mampu mengubah ilmu menjadi karya, inovasi, hingga menciptakan lapangan pekerjaan.
Pesan itu disampaikan Mahyunadi saat menghadiri Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-XIV STIE Nusantara Sangatta di Ruang Akasia, Gedung Serbaguna (GSG) Bukit Pelangi, belum lama ini.
Sebanyak 247 wisudawan dan wisudawati mengikuti prosesi dari Program Studi S1 Manajemen, S1 Akuntansi, serta Program Pascasarjana Magister Manajemen (S2).
Mahyunadi mengatakan, gelar akademik tidak boleh menjadi tujuan akhir pendidikan. Menurutnya, tantangan lulusan justru dimulai setelah meninggalkan bangku kuliah, yakni bagaimana kompetensi yang dimiliki mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kutim, saya menyampaikan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan dan wisudawati. Semoga ilmu dan kompetensi yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk berkarya, mengabdi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Mahyunadi.
Ia menegaskan, wisuda seharusnya menjadi titik awal bagi lulusan untuk membuktikan kapasitasnya di tengah masyarakat.
“Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan untuk mengimplementasikan ilmu di tengah masyarakat. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana ilmu tersebut diterjemahkan menjadi karya, inovasi, dan kontribusi nyata,” tegasnya.
Menurut Mahyunadi, tantangan tersebut semakin besar seiring perubahan teknologi, digitalisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengubah pola kerja serta kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
Karena itu, lulusan diminta tidak cepat merasa cukup dengan ijazah yang diperoleh. Penguasaan teknologi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemauan untuk terus belajar dinilai menjadi modal penting agar lulusan tidak tertinggal oleh perubahan.
“Jangan sampai pembangunan ekonomi Kutim berkembang lebih cepat daripada kesiapan sumber daya manusianya,” tegas Mahyunadi.
Pernyataan tersebut menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu tantangan penting dalam pembangunan Kutim. Pertumbuhan ekonomi, kata dia, harus berjalan beriringan dengan kesiapan masyarakat yang menjadi pelaku pembangunan. (adv/ao)













