Lensakaltim.com (Kutim) – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memperkuat upaya pelestarian warisan arkeologi dan sejarah daerah dengan memfungsikan Galeri Budaya sebagai pusat informasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Fasilitas ini juga diproyeksikan menjadi cikal bakal museum daerah yang nantinya menjadi ruang edukasi sekaligus penyimpanan koleksi budaya Kutim.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Ilham, mengatakan keberadaan galeri memiliki posisi penting di tengah luasnya kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang menyimpan kekayaan arkeologi bernilai tinggi.
Menurutnya, galeri tidak sekadar menjadi tempat memajang benda-benda bersejarah. Fasilitas tersebut menjadi pintu awal bagi masyarakat, pelajar maupun wisatawan untuk mengenal kekayaan arkeologi Kutim sebelum mengunjungi langsung situs-situs yang berada di kawasan karst.
“Galeri budaya ini sebenarnya semacam museum kecil yang kami posisikan sebagai pusat informasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Seluruh data dan benda yang ada di dalamnya berasal dari hasil riset para ahli,” ujar Ilham saat ditemui di ruang kerjanya.
Sejumlah koleksi dan informasi penting telah dihimpun di dalam galeri. Di antaranya gerabah kuno, fosil tulang yang diduga memiliki nilai cagar budaya, hingga dokumentasi visual lukisan telapak tangan manusia purba yang diperkirakan berusia sekitar 40.000 tahun.
Koleksi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkenalkan sejarah panjang peradaban manusia di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat kepada publik.
“Sebelum peneliti atau wisatawan minat khusus masuk ke lokasi riil Sangkulirang-Mangkalihat yang medannya cukup jauh, mereka bisa datang ke sini dulu untuk melihat gambaran utuhnya,” jelasnya.
Ilham mengakui akses menuju sejumlah situs arkeologi di kawasan karst masih menjadi tantangan. Jarak yang jauh dan kondisi medan membuat tidak semua masyarakat, khususnya pelajar, dapat melihat langsung situs-situs tersebut.
“Akses ke sana memang jauh. Makanya kami berusaha mendekatkan informasi Geopark melalui media digital agar anak-anak sekolah bisa berimajinasi dan mengenal situs sejarah tanpa harus langsung ke lokasi,” ungkapnya.
Langkah tersebut dinilai penting agar warisan arkeologi Kutim tidak hanya tersimpan sebagai koleksi, tetapi juga dapat dipahami dan dikenali generasi berikutnya. Museum nantinya diharapkan mampu menjadi pusat dokumentasi, edukasi dan pelestarian berbagai peninggalan sejarah serta kebudayaan Kutim.
“Harapan Bapak Bupati dan kita semua, galeri arkeologi ini akan ditingkatkan menjadi museum resmi. Tahun ini rencananya kita mulai melakukan pematangan lahan di kawasan Jalan Soekarno-Hatta,” pungkasnya. (adv/ir/ao)













