Lensakaltim.com (Kutim) – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menunjukkan keseriusannya dalam membenahi sektor pendidikan. Melalui peluncuran Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK), Kutim mengambil langkah terobosan untuk menurunkan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) yang selama ini tertinggi di Kalimantan Timur (Kaltim).
Program ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak memperbaiki kualitas sumber daya manusia daerah, sekaligus memastikan tidak ada anak Kutim yang tertinggal dari akses pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, menjelaskan bahwa SITISEK dirancang bersama Tim Kajian Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan pendekatan terukur berbasis kebutuhan daerah.
Tahap ini memastikan data ATS benar-benar akurat. Dengan dukungan PKK dan RT, verifikasi lapangan dilakukan secara masif. Hasil awal menunjukkan penurunan hampir 3.000 ATS, sedangkan sekitar 5.000 data lainnya sedang menunggu verifikasi Disdukcapil sebelum diajukan penghapusan dari Pusdatin.
Fokus pilar ini menyasar anak-anak yang rentan putus sekolah karena kendala ekonomi, pernikahan dini, atau lingkungan kurang mendukung. Upaya pencegahan dilakukan melalui penguatan kolaborasi lintas sektor.
Untuk anak yang tidak memungkinkan kembali ke jalur sekolah formal, jalur kesetaraan disiapkan melalui SKB dan 18 PKBM. Mereka dapat mengikuti Paket A, B, dan C, serta berbagai pelatihan keterampilan untuk mendukung kemandirian.
SITISEK tidak berdiri sendiri. Program ini sejalan dengan rencana besar Kutim meningkatkan kualitas pendidikan melalui penerapan Wajib Belajar 13 Tahun, mulai PAUD hingga SMA/SMK. Disdikbud tengah menyusun Peraturan Bupati (Perbup) sebagai payung hukum yang ditargetkan rampung pada awal tahun mendatang.
“Tantangan terbesar dalam penyusunan Perbup adalah merumuskan sanksi agar program wajib belajar benar-benar dipatuhi. Kami ingin pendidikan merata hingga ke tingkat menengah atas,” tegas Mulyono.
Ia juga menilai, Kutim cukup siap secara infrastruktur dengan keberadaan 380–400 lembaga PAUD, jumlah yang jauh melampaui kebutuhan di 139 desa.
Ketua Tim Kajian UNY, Sabar Nurohman, menegaskan bahwa pola pikir sebagian orang tua menjadi salah satu penyebab tingginya ATS. “Perubahan mindset sangat penting. Program yang kami susun fokus pada peningkatan kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan untuk masa depan anak,” ujarnya. (adv/rm/lk)













