Dari Tradisi hingga Dayak Kenyah, Pemkab Kutim Abadikan Sejarah dalam Tiga Buku

Dari Tradisi hingga Dayak Kenyah, Pemkab Kutim Abadikan Sejarah dalam Tiga Buku
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham.

Lensakaltim.com (Kutim) – Sejarah sebuah daerah bukan hanya tentang angka tahun dan pergantian pemerintahan. Di dalamnya tersimpan cerita tentang tradisi, kehidupan masyarakat, perjalanan agama, hingga identitas komunitas adat yang membentuk wajah daerah dari masa ke masa.

Hal itulah yang kini coba diabadikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim). Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Pemkab Kutim menyiapkan tiga buku yang mengangkat sejumlah sisi penting perjalanan sejarah dan kebudayaan di Bumi Untung Tuah.

Rencana tersebut dibahas dalam Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Penulisan Sejarah Kabupaten Kutim. Kajian dilaksanakan dengan mekanisme swakelola tipe 2 dan melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, mengatakan penulisan sejarah tersebut akan dituangkan dalam tiga karya. Masing-masing memiliki fokus berbeda, namun sama-sama bertujuan mendokumentasikan perjalanan masyarakat Kutim.

“Penulisan sejarah yang akan dilaksanakan meliputi tiga karya,” ujar Ilham, Rabu (23/9/2026).

Buku pertama berjudul Kisah-kisah dari Kutai Timur. Budaya, Tradisi dan Kehidupan. Buku ini akan mengangkat berbagai budaya, tradisi serta kehidupan masyarakat yang berkembang di Kutim.

Berikutnya, buku kedua berjudul Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur. Karya tersebut akan mengulas perjalanan dan perkembangan Islam di wilayah Kutim sebagai bagian dari dinamika kehidupan masyarakat.

Sementara itu, buku ketiga secara khusus mengangkat masyarakat adat melalui karya berjudul Sejarah Perkembangan Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepo Jalan.

Menurut Ilham, ketiga buku tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi dokumentasi. Lebih jauh, hasil penulisan dapat menjadi sumber informasi dan referensi yang bisa dimanfaatkan berbagai kalangan.

“Harapannya, tiga karya ini bisa menjadi sumber informasi dan referensi, tidak hanya untuk pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat, dunia pendidikan dan generasi mendatang,” katanya.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses penggalian dan pendokumentasian sejarah serta kebudayaan daerah. Informasi yang selama ini berkembang di tengah masyarakat diharapkan dapat terdokumentasi secara lebih sistematis.

Bagi Kutim, langkah ini menjadi penting di tengah perkembangan daerah yang terus berjalan. Sebab, pembangunan dan perubahan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan jejak mengenai asal-usul, tradisi dan identitas daerahnya.

Melalui tiga karya tersebut, cerita tentang Kutim diharapkan tidak berhenti sebagai ingatan dari generasi yang pernah mengalaminya. Namun, dapat menjadi bahan pembelajaran yang bisa dibaca, dikaji dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari budaya dan tradisi masyarakat, perjalanan Islam, hingga perkembangan masyarakat adat Dayak Kenyah Lepo Jalan, seluruhnya menjadi bagian dari mozaik sejarah yang membentuk Kutim hari ini. (adv/rl/ao)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *