Luruskan Simpang Siur Deep Learning di Kutim: Kurikulum Tak Berganti, Cara Belajar Jadi Lebih ‘Berisi’

Luruskan Simpang Siur Deep Learning di Kutim: Kurikulum Tak Berganti, Cara Belajar Jadi Lebih 'Berisi'
Kabid PAUD dan PNF Disdikbud Kutim Heri Purwanto

Lensakaltim.com (Kutim) – Istilah deep learning yang belakangan santer terdengar di ranah pendidikan sempat memicu tanda tanya besar bagi sejumlah orang tua murid di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Meredam kebingungan publik, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim secara tegas meluruskan isu yang beredar: tidak ada perubahan maupun penggantian kurikulum.

Dinas memastikan, Kurikulum Merdeka tetap menjadi pijakan utama. Deep learning sejatinya hanyalah sebuah formulasi strategi pembelajaran agar anak tidak sekadar mengejar hafalan materi, melainkan mampu mengunyah dan memahami konsep secara mendalam.

Kabid PAUD dan PNF Disdikbud Kutim Heri Purwanto menegaskan, disrupsi istilah tersebut tak boleh menyurutkan substansi belajar di kelas. Materinya tetap sama, namun pendulum pendekatannya yang diubah. Siswa kini didorong untuk mengaitkan teori dengan realitas di sekeliling mereka.

”Tidak ada penggantian kurikulum. Materinya tetap. Namun proses belajarnya kini diarahkan agar anak mampu memahami konsep lebih dalam dan tidak hanya menghafal,” terang Heri saat ditemui, Selasa (15/9/2026).

Penerapan metode pembelajaran mendalam ini menyuntikkan fleksibilitas tinggi bagi para pendidik. Guru di kawasan perkebunan, misalnya, dapat merajut materi pelajaran dengan dinamika industri sawit. Sementara di garis pantai, materi dikonversikan ke dalam ekosistem laut dan denyut kehidupan masyarakat pesisir.

Lewat pendekatan kontekstual tersebut, ruang kelas tak lagi berjarak dari lingkungan tempat anak tumbuh. Fleksibilitas ini sekaligus melejitkan potensi lokal yang ada di tiap-tiap wilayah Kutim.

Meski begitu, Disdikbud menyadari potensi gesekan persepsi di tingkat orang tua jika istilah deep learning tak ditranslasikan dengan utuh. Karena itu, sekolah diimbau memperketat ruang dialog dengan para wali murid—baik lewat forum parenting maupun komunikasi intensif.

”Semua satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta, tetap berada dalam koridor Kurikulum Merdeka,” tandas Heri.

Lewat penguatan strategi ini, kegiatan belajar di Kutim diharapkan tidak cuma melahirkan anak yang pandai menghafal teks, melainkan siswa yang responsif dan mampu membongkar persoalan di sekitarnya. (adv/rl/ao)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *