Lensakaltim.com (Kutim) – Memasuki usia ke 26, namun kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menghadapi sejumlah keterbatasan, termasuk salah satunya pengelolaan dan penyimpanan koleksi bersejarah. Di sejumlah momen, Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, tidak membantah keterbatasan itu namun pihaknya terus berusaha merealisasikan pembangunan museum.
Ardiansyah mengaku, saat ini Kutai Timur telah memiliki sebuah bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat penyimpanan artefak. Meski disisi lain berfungsi sebagai ruang koleksi. “Sebagian besar artefak hanya disimpan, bukan dipamerkan, sehingga fungsinya jauh dari konsep sebuah museum,” beber Ardiansyah Sulaiman.
“Saat ini kita tidak memiliki kapasitas memadai untuk menampilkan atau mengelola benda-benda bersejarah. Adanya museum yang representatif, kita dapat menampilkan ke ruang publik dan menjadi bagian penting dari pendidikan dan kebanggaan masyarakat,” sambungnya.
Dengan ruang penyimpanan yang sempit dan minim fasilitas membuat keberadaan koleksi tidak banyak diketahui warga. Kondisi ini turut menyebabkan potensi edukatif dan wisata sejarah daerah belum tergarap maksimal.
“Tempatnya kecil, sehingga banyak masyarakat yang bahkan tidak tahu bahwa Kutim memiliki artefak sejarah dalam jumlah cukup banyak,” ungkapnya.
Lebih jauh Ardiansyah menuturkan, Kutai Timur begitu kaya, dengan luas wilayah dan sejarah panjang serta memiliki situs-situs penting seperti kawasan karst Sangkulirang–Mangkalihat, tempat ditemukannya goa berlukis dengan nilai arkeologi tinggi.
Kesempatan itu, Ia mengharap kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, mengingat pentingnya pelestarian warisan budaya bagi identitas generasi muda.
“Tidak adanya museum resmi membuat Kutim tertinggal dibandingkan daerah lain dalam memanfaatkan museum sebagai pusat informasi budaya dan Sejarah. Situasi ini juga mendorong pemerintah untuk mulai merumuskan arah pembangunan museum daerah,” imbuhnya. (adv/dr/lk)













